heyyo kangmasbro mamentos!!

heyyo! welcome to my blog!! thanks for visit this unimportant blog hehehe i will not be posting every time because i'm to busy with my school work -_- enjoy everything in my blog! ohya! visit also my tumblr http://ikutakun.tumblr.com and follow my twitter @ntheeey hehe thankyouu :*

Kamis, 12 Januari 2012

Late confession

hello fellas!!!!!!!!

firstly, I want to say MERRY CHRISTMAS AND HAPPY 2012!!!! it's late but yeah at least I've said that -_- changing the topic, 2012 berarti semester baru di sekolah gue, dan semester ini, gue udh harus nentuin bakal masuk jurusan mana, IPA atau IPS. hem. jujur, gue galau sih. bangetttttt malah.

di satu sisi, gue mau masuk IPA, gue mau bikin ortu gue bangga, karena kalo gue masuk IPA, gue jd cucu mbah pertama yg masuk IPA. di lain sisi, gue sbnrnya pengen coba di IPS. berhubung gue pengen jd diplomat, atau apapun itu yang kerjaannya keliling dunia buat promosiin Indonesia, atau sekedar jadi humas sama negara lain, gue berfikir jg untuk masuk IPS. tapi.............. yaitu dia gue mikir lagi -_- kalo gue di IPA gue bs ngambil jurusan itu jg sih, atau ngambil yang lain dl baru ngelamar kerjanya di kedutaan. Tapi kalo IPS kan bs langsung......... dsbdsbdsbdsb...... T_T

eniwey, target gue semester ini bukan IPA atau IPS. target gue yaitu..... naik kelas...... aywgecunhgt3cngrme -____- well, nilai gue emang gak jelek - jelek amat, tapi gue takut aja tiba tiba turun gt -_- karena seminggu sekolah ini, gue sama sekali gakada semangat belajar.... jiwa rajin belajar gue entah pergi kemana meninggalkan raga malas gue untuk belajar....

but hey, gue dikirimin satu cerita yang mungkin bisa memotivasi kalian kalian.yang gue share di posting ini.yah cuma sekedar cerita tapi semoga bermanfaat ya

so, I think this is another farewell. gue gakbisa janji buat update terus karena.... ya..... you know senior high school, so many tasks and homework -_-  soooooooooo BYE!!




guys, here's the story. enjoy!
Siapakah ibunya

 
Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali kekota. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan.
 
"Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum. Tangangnya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya. "Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan," jawab saya ringkas. dia berlalu.
 
Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istrisepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.
 
"Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?" tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya.
 
"Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih," kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, "Tak mau beli kue saya Bang, Pak... Kakak atau Ibu." Molek budi bahasanya.
 
Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.
 
Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca jendela. Membalas senyumannya.
 
"Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue saya untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang," katanya sopan sekali sambil tersenyum.
Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.
 
Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp
20.000,- padanya. "Ambil ini Dik! Abang sedekah... Tak usah Abang beli kue itu." Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.
 
Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya. Saya terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak itu. "Kenapa Bang, mau beli kue kah?" tanyanya.
 
"Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.
 
"Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah.
Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!" katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.
 
"Abang mau beli semua kah?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk.
Lidah saya kelu mau berkata. "Rp 25.000,- saja Bang...." Selepas dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.
 
Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya......

cr: forwarded message via yahoo.com