firstly, I want to say MERRY CHRISTMAS AND HAPPY 2012!!!! it's late but yeah at least I've said that -_- changing the topic, 2012 berarti semester baru di sekolah gue, dan semester ini, gue udh harus nentuin bakal masuk jurusan mana, IPA atau IPS. hem. jujur, gue galau sih. bangetttttt malah.
di satu sisi, gue mau masuk IPA, gue mau bikin ortu gue bangga, karena kalo gue masuk IPA, gue jd cucu mbah pertama yg masuk IPA. di lain sisi, gue sbnrnya pengen coba di IPS. berhubung gue pengen jd diplomat, atau apapun itu yang kerjaannya keliling dunia buat promosiin Indonesia, atau sekedar jadi humas sama negara lain, gue berfikir jg untuk masuk IPS. tapi.............. yaitu dia gue mikir lagi -_- kalo gue di IPA gue bs ngambil jurusan itu jg sih, atau ngambil yang lain dl baru ngelamar kerjanya di kedutaan. Tapi kalo IPS kan bs langsung......... dsbdsbdsbdsb...... T_T
eniwey, target gue semester ini bukan IPA atau IPS. target gue yaitu..... naik kelas...... aywgecunhgt3cngrme -____- well, nilai gue emang gak jelek - jelek amat, tapi gue takut aja tiba tiba turun gt -_- karena seminggu sekolah ini, gue sama sekali gakada semangat belajar.... jiwa rajin belajar gue entah pergi kemana meninggalkan raga malas gue untuk belajar....
but hey, gue dikirimin satu cerita yang mungkin bisa memotivasi kalian kalian.yang gue share di posting ini.yah cuma sekedar cerita tapi semoga bermanfaat ya
so, I think this is another farewell. gue gakbisa janji buat update terus karena.... ya..... you know senior high school, so many tasks and homework -_- soooooooooo BYE!!
guys, here's the story. enjoy!
Siapakah ibunya
Selesai berlibur dari
kampung, saya harus kembali kekota. Mengingat jalan tol yang juga padat,
saya menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di
sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia
lebih kurang 12 tahun muncul di depan.
"Abang mau beli kue?"
Katanya sambil tersenyum. Tangangnya segera menyelak daun pisang yang
menjadi penutup bakul kue jajanannya. "Tidak Dik, Abang sudah pesan
makanan," jawab saya ringkas. dia berlalu.
Begitu pesanan tiba,
saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat
anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istrisepertinya.
Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.
"Abang sudah makan,
tak mau beli kue saya?" tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya.
"Abang baru selesai
makan Dik, masih kenyang nih," kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia
pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan
bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, "Tak mau beli kue
saya Bang, Pak... Kakak atau Ibu."
Molek budi bahasanya.
Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk
restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa
kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha.
Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya,
sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.
Setelah membayar harga
makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Anak itu saya lihat
berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu,
membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan
mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia menghadiahkan sebuah
senyuman. Saya turunkan kaca jendela. Membalas
senyumannya.
"Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue saya
untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang," katanya sopan sekali sambil
tersenyum.
Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak
daun pisang penutupnya.
Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul
perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan
selembar uang Rp
20.000,- padanya. "Ambil ini Dik! Abang sedekah... Tak usah
Abang beli kue itu." Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan
meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas
mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan
kedai. Saya gembira dapat membantunya.
Setelah mesin mobil
saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah terperanjatnya saya melihat
anak itu mengulurkan Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada seorang
pengemis yang buta kedua-dua matanya. Saya terkejut, saya hentikan
mobil, memanggil anak itu. "Kenapa Bang, mau beli kue kah?" tanyanya.
"Kenapa Adik berikan
duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!" kata
saya tanpa menjawab pertanyaannya.
"Bang, saya tak
bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak
kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah.
Kalau dia tahu saya
bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti
marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat
Bang!" katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan
hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga
semua kue dalam bakul itu.
"Abang mau beli semua
kah?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk.
Lidah saya kelu mau
berkata. "Rp 25.000,- saja Bang...." Selepas dia memasukkan satu persatu
kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan
terima kasih dan
terus pergi. Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.
Dalam perjalanan, baru
saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak yatim kah? Siapakah wanita
berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya
katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar kasihan, tetapi rasa
kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan.
Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya,
siapa kita sebenarnya......
cr: forwarded message via yahoo.com